Newslink.co.id - Sumber informasi terpercaya

Selasa, 19 Juni 2018 - 01:56 WIB

Derek Manangka, Anak Permesta dari Desa Warisa

Oleh : Albert Kuhon | Minggu, 27 Mei 2018 - 00:28 WIB

Derek Manangka (dok. facebook)
Derek Manangka (dok. facebook)
Wartawan senior Derek Manangka wafat Sabtu (26/5) sekitar pukul 10 WIB di Jakarta. Saya kenal Derek tahun 1982, dalam peliputan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Waktu itu saya belum lama menjadi wartawan Harian Kompas. Saya ditugasi August Parengkuan, Redaktur Politik Harian Kompas, ikut memperkuat tim peliputan di Sidang Umum MPR.

Dalam sidang yang dihadiri Presiden Suharto, ada salah seorang anggota MPR yang terlambat hadir. Ia datang setelah presiden berada dalam ruanghan. Karenanya, dia tidak diizinkan masuk dan kemudian merokok dan berbincang-bincang dengan kami di luar ruang sidang. Keesokan harinya, berita tentang keterlambatan anggota MPR tersebut dipublikasikan oleh Koran Sinar Pagi.

Anggota MPR itu marah besar dan merasa dipermalukan oleh media. Pada hari penerbitan berita tersebut, anggota MPR itu datang pagi-pagi ke kerumuman para peliput mencari-cari wartawan Sinar. Ketika dia sedang marah-marah, Derek Manangka dari Harian Sinar Harapan tiba di dekatnya. Karena mengira Derek adalah wartawan yang menulis laporan di Sinar Pagi, anggota MPR tersebut langsung melabrak Derek. Dan dia keliru!

Itulah pertemuan pertama saya dengan Derek. Sejak itu kami berteman. Derek sempat mendapat beasiswa ke Perancis. Setelah kembali ke Indonesia, sekitar tahun 1984, Derek bersama Panda Nababan hijrah dari Sinar Harapan lalu bergabung dengan Surya Paloh mendirikan Harian Prioritas. Setelah Prioritas dibreidel tahun 1985, Derek pindah ke Majalan Vista yang juga milik Surya Paloh, kemudian ia bergabung dengan Harian Media Indonesia..

Sekeluarnya dari Media Indonesia, Derek sempat ikut membidani Koran Sindo. Ia juga pernah menjadi pemimpin redaksi di Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) pada tahun 2003. Setelah itu ia banyak menghabiskan waktu di lapangan golf. Tapi Derek tidak pernah berhenti menulis. Salah satu bukunya, Pak Moer Poppy The Untold Story (2012) sempat mengundang kontroversi. Derek sempat mengajak saya ngopi sambil ngobrol tentang bukunya tersebut. Dia bilang, buku itu dibuatnya berdasarkan riset yang tidak main-main.

Tahun 2014, terbit buku Derek Manangka berjudul Surya Paloh Melawan Arus Menantang Badai. Sejak tahun 2017, Derek menyiapkan buku biografi Bambang Soesatyo, mantan wartawan yang kini menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Bamsoet pernah bersama-sama Derek di Harian Prioritas dan Majalah Vista.

Selain menulis buku, Derek juga rajin menulis Catatan Tengah yang dipublikasikannya di akun Facebook. Sejak penerbitan pertama Catatan Tengah sampai 24 Mei 2018 (dua hari sebelum ia wafat), Derek selalu rajin mengirimkan link tulisan-tulisannya kepada saya melalui WA.
Tulisan-tulisan Derek tajam dan kritis. Ia pernah menulis di status Facebooknya ujaran yang dianggap menyindir anggota parlemen. “Anggota DPR-RI yang menghambat pembahasan revisi UU Antiterorisme, pastilah teroris,” begitu pendapat Derek.

Ia menegaskan lagi pendapatnya tersebut dalam wawancara dengan pihak Ceknricek.com sekitar seminggu sebelum Derek wafat. Tulisannya itu dianggap memfitnah salah satu pimpinan partai politik sebagai pendukung teroris. Dikabarkan Derek Manangka dan sepuluh pemilik akun media sosial lain dilaporkan ke polisi. “Tapi saya tidak menghina siapa-siapa, tidak menyebut nama, tidak menyebut partai,” kata Derek kepada ceknricek.com Jumat (18/5).

Selasa (1/5/2018) Derek memposting Catatan Tengah yang menyoal bocornya rekaman percakapan telepon Menteri BUMN Rini Soemarno dengan Dirut PLN Sofyan Basir. Derek menyindir, kekayaan Indonesia dikuasai dua kekuatan. Yakni Sembilan Naga dan Naga Berkepala Kobra. Kata Derek, rekaman pembicaraan itu mengindikasikan kekuasaan Naga Berkepala Kobra yang terpisah dari Sembilan Naga.

Mantan Pemimpin Redaksi Seputar Indonesia ini aktif menjadi jurnalis sejak tahun 1974, sewaktu ia masih kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (STP) Jakarta (kini Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau IISIP). Jakarta. Ia antara lain pernah bekerja di Harian Sinar Harapan.

Derek dalam tulisannya bercerita, Agustus 2009 dia diajak Benny Tengker, salah seorang bekas tentara Perjungan Rakyat Semesta (Permesta) pulang kampung di Sulawesi Utara. Dia mengunjungi Desa Ponto yang dicapai melalui jalan lingkar dari Bitung melewati Likupang. Derek bercerita bahwa Desa Ponto, adalah desa yang paling tidak disukai anak-anak Permesta seperti dirinya.

Dulu dari Desa Ponto, Tentara Pusat yang berintikan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) pimpinan Mayor Benny Moerdani, merancang penumpasan Permesta. Di Desa Ponto, dibangun sebuah Tugu Pendaratan sebagai peringatan atas kedatangan pasukan Benny Moerdani melakukan pendaratan di Bumi Permesta. Kata Derek, tugu itu hanya satu-satunya di Minahasa. Cuma di Desa Ponto.
Dari Ponto, RPKAD melewati Kampung Baru, Warisa (desa orangtua Derek), Patokaan, Wusa, Koka, baru kemudian menyerang lapangan terbang Mapanget (kini Bandara Sam Ratulangi). Mapanget adalah aalah satu basis kekuatan Permesta yang dijaga oleh Angkatan Udara Revolusioner (AUREV).

Berada di seputar Tugu Pendaratan itu, Derek merasa luka akibat Permesta dalam dirinya terkoyak kembali. Ia punya nostalgia pahit ketika Perang Saudara Permesta meletus di tahun 1957-58. Ketika itu, menurut Derek, Desa Ponto merupakan tempat bermukimnya para kolaborator yang anti Permesta. Yang menyebabkan terbunuhnya saudara-saudara orangtua Derek di desa Warisa.

Derek sempat menyisipkan kisah pilu sepupunya, Frans Kairupan, ajudan Kolonel Tenges yang tergabung dalam Permesta di Minahasa Selatan. Mula-mula Frans dijanjikan dijadikan tentara penuh di Pulau Jawa. Ternyata setiba di Surabaya, dia dilucuti dan dibawa ke Palembang, Sumatera Selatan. “Kalau Tuhan berkehendak, niscaya testimoni dia, akan saya bukukan,” tulis Derek.

Derek pernah termotivasi masuk AKABRI (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Tapi gagal karena dia anak tunggal. Akhirnya dia masuk Perguruan Tinggi Publisistik, Jakarta dan menjadi wartawan. Anak Permesta dari Desa Warisa itu cukup beruntung. Dia pernah berkarir sebagai wartawan di Harian Sinar Harapan, Prioritas, Media Indonesia dan Seputar Indonesia RCTI. Derek memperoleh beasiswa dari pemerintah Perancis dan dari Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, John Holdridge.

Derek, tahun 1993 di Tel Aviv pernah mewawancarai Perdana Menteri Israel Yithzak Rabin, Menlu Israel Shimon Peres. Lalu tahun 2003 dia sempat mewawancarai Presiden Libya Moamar Khadafy di Tripoli, Libya.

Kini, Derek Manangka berada di kebakaan yang sama dengan mereka. Ia juga belum sempat menulis buku tentang sepupunya. Tuhan berkehendak lain, Derek menyusul Frans Kairupan yang wafat sekitar lima tahun silam.
Selamat jalan, Sobat!

Jakarta, 26 Mei 2018
Albert Kuhon

Komentar Berita

Berita Lainnya

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso melakukan ramp check di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, Rabu (13/6/2018)

Nasional 16 Juni 2018 - 00:46 WIB

Lebaran Tahun Ini Dunia Penerbangan Indonesia Dapat Kado Terindah

Kabar gembira itu datang tepat pada malam takbiran Idul Fitri 1439 Hijriah atau Kamis siang (14/6/2018) waktu Brussel. Secara resmi Uni Eropa telah mengeluarkan…

kompas.com

Salat Id di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (15/6/2018) (Foto: Mochamad Zhacky-detikcom)

Nasional 15 Juni 2018 - 09:42 WIB

Khotbah di Istiqlal, Aa Gym Bicara Soal Orang 'Jatuh' karena Lisan

Abdullah Gymnastiar memberikan khotbah bertema 'Meraih Kemenangan Pribadi Menuju Kemenangan Umat' saat salat Idul Fitri 2018 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat.…

detik.com

Mantan Juru Bicara Presiden RI ke-3 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Yahya Staquf, diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Kamis (31/5).

Luar Negeri 12 Juni 2018 - 15:20 WIB

Pengamat UI: Staquf ke Israel Rusak Diplomasi Jokowi

JAKARTA -- Pengamat politik Timur Tengah Abdul Muta'ali menyayangkan pertemuan Yahya Cholil Staquf dengan Yayasan Yahudi di Israel pada Ahad (10/6) waktu setempat.…

Republika.co.id

PT KAI luncurkan kereta sleeper di Stasiun Gambir, Jakarta

Gaya Hidup 12 Juni 2018 - 11:08 WIB

Resmi Diluncurkan KAI, Kereta Mewah Sleeper Terisi Penuh

PT Kereta Api Indonesia meluncurkan secara resmi operasional perdana Kereta Sleeper, di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Selasa, 12 Juni 2018. Kereta kelas mewah…

viva.co.id

Donald Trump dan Kim Jong-Un sempat menyapa wartawan dari balkon Hotel Capella, Singapura usai mengakhiri pertemuan tatap muka (REUTERS/Jonathan Ernst)

Luar Negeri 12 Juni 2018 - 10:28 WIB

Kata Trump Usai Tatap Muka dengan Kim: Hubungan Luar Biasa

Singapura - Pertemuan tatap muka antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un diakhiri setelah berlangsung 41…

detik.com

Ilustrasi demo/unjuk rasa. Toulousestreet.com

Luar Negeri 12 Juni 2018 - 09:45 WIB

Demo Besar Anti-Cina di Vietnam, Beijing Minta Warganya Waspada

Cina memperingatkan warganya di Vietnam agar waspada menyusul demo besar anti-Cina di negara itu membesar akhir-akhir ini. Dalam beberapa hari terakhir pengunjuk…

tempo.co

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump saling berjabat tangan untuk pertama kalinya di Hotel Capella, Singapura, Selasa (12/6/2018). (AFP/Saul Loeb)

Luar Negeri 12 Juni 2018 - 09:11 WIB

Jabat Tangan 10 Detik yang Bersejarah antara Trump dan Kim Jong Un

SINGAPURA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pemimpin Kim Jong Un bertatap muka di Hotel Capella. Keduanya saling berjabat tangan untuk pertama kalinya…

kompas.com