Newslink.co.id - Sumber informasi terpercaya

Minggu, 18 Agustus 2019 - 20:35 WIB

Juragan Nasi Kuning Milenial

Oleh : Joko Intarto | Senin, 06 Mei 2019 - 11:08 WIB

Yusrin Yunus pengusaha Nasi Kuning dari Makassar
Yusrin Yunus pengusaha Nasi Kuning dari Makassar
Insinyur peternakan itu mengambil keputusan yang sangat berani: Dari manager pabrik pakan ternak menjadi pengusaha kuliner rumahan. Meski tidak keren, Yusrin Yunus mengaku bangga menjadi pengusaha di kampung halamannya: Makassar.

Nasi kuning begitu popular di kawasan Indonesia Timur. Makanan yang satu ini mudah ditemukan di semua kota: Dari Sulawesi hingga Maluku.

Bila diperhatikan, hampir semua pedagang nasi kuning di Indonesia Timur berasal dari Sulawesi Selatan. Ada juga generasi kedua dan ketiga yang sudah berstatus warga lokal. Tetapi moyangnya dari Sulawesi Selatan.
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, nasi kuning merupakan menu makanan sehari-hari. Akhirnya nasi kuning identik dengan budaya kuliner Sulawesi Selatan.

Karena itu, jangan heran kalau di Makassar, begitu banyak orang yang menjual nasi kuning. Dari warung kaki lima hingga hotel bintang lima. Nasi kuning juga bisa diperoleh kapan saja: pagi, siang, sore dan malam. Di warung ‘bagadang’ menu nasi kuning tersedia selama 24 jam.

Dalam bisnis yang begitu banyak pemain itulah, Yusrin masuk. Alumni Universitas Tadulako itu mengusung brand ‘Bunda’ untuk produk nasi kuningnya.

Pemakaian brand dalam bisnis nasi kuning di Makassar merupakan sesuatu yang baru. Saat Yusrin memulai bisnis kulinernya, tiga tahun lalu, belum banyak pedagang nasi kuning yang ‘sadar merk’.
Mayoritas pedagang hanya menggunakan istilah generik: ‘nasi kuning’ sebagai informasi warungnya. Bahkan pedagang kaki lima tidak memasang papan informasi sekali.

Berkat brand ‘Bunda’, nasi kuning produksi Yusrin lebih mudah diingat konsumen. Brand ‘Bunda’ menjadi keunggulan sekaligus pembeda nasi kuning buatan Yusrin dengan nasi kuning buatan pedagang lainnya.

Kiat Yusrin sekarang ditiru banyak pedagang nasi kuning. Bahkan brand ‘Bunda’ juga digunakan pedagang lainnya.

‘’Saya tidak mempersoalkan pemakaian nama ‘Bunda’. Tapi saya harus menemukan strategi agar konsumen bisa membedakan bahwa ‘Bunda’ yang itu tidak sama dengan ‘Bunda’ yang ini. Bagaimana caranya?’’ tanya Yusrin.

Sebagai praktisi komunikasi, saya memberi saran kepada Yusrin untuk menambahkan logo dan icon ‘Bunda’. Dengan adanya dua unsur baru itu, ‘Bunda’ versi Yusrin akan berbeda dengan ‘Bunda’ yang lain.

Selain soal brand, produk nasi kuning ‘Bunda’ juga bisa dibedakan dari produk kompetitor karena kontennya yang unik dan inovatif. Salah satunya, menjadikan rendang yang dinobatkan sebagai masakan terenak sedunia itu sebagai varian nasi kuning buatannya. Jadilah menu baru: nasi kuning rendang. Memadukan citarasa Sulawesi Selatan dengan Sumatera Barat.

‘’Ke depan, bukan tidak mungkin lahir varian menu baru. Nasi kuning dengan daging sapi resep Jawa atau Sunda dan Aceh. Seperti mi instan yang sekarang punya banyak varian rasa,’’ tambahnya.

Dalam menjalankan bisnis, Yusrin juga sudah menggunakan bantuan software akuntansi. Aplikasi itu membantunya untuk mengontrol penjualan di dua outletnya: satu warung dan satu mobil keliling. ‘’Pencatatan transaksi maupun penghitungan laba rugi juga sudah diketahui secara real time,’’ kata mantan wartawan harian ‘Mercusuar’ Palu itu.

Bila Anda sedang di kota Makassar, cobalah makan nasi kuning. Bila ingin merasakan yang istimewa, ada pilihan nasi kuning Bunda. ‘’Kami ada layanan antar ke alamat pembeli di seluruh kota Makassar,’’ kata Yusrin menutup pembicaraan.

Saya mengenal Yusrin sudah sangat lama. Dulu, ia pernah menjadi karyawan saya. Selama empat tahun ia menjadi wartawan di harian ‘Mercusuar’ Palu yang saya pimpin. Saat masih mahasiswa hingga lulus sarjana. Bersama saudara kembarnya: Yusran Yunus.

Selepas kuliah, Yusran Yunus bergabung dengan harian ‘Bisnis Indonesia’. Meneruskan profesi sebagai jurnalis.

Yusrin yang berpindah haluan. Bekerja di perusahaan pakan ternak Wonokoyo di pabrik yang berada di Kalimantan. Sesuai bidang keilmuan yang ditekuni di perguruan tinggi.

Berpindah kuadran. Itulah yang dilakukan Yusrin. Bosan jadi karyawan, ia banting setir menjadi juragan. Pada usia yang masih sangat muda.(jto)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Enggartiasto dan Rini Soemarno

Opini 16 Agustus 2019 - 18:03 WIB

Enggar dan Rini Anggap Sepi Larangan Jokowi

Kesannya, perintah dan larangan Presiden Jokowi yang sudah dipublish itu hanya sebagai pemanis di bibir saja oleh para menterinya, setidak-tidaknya oleh Enggar…

Fahri Hamzah

Politik 14 Agustus 2019 - 16:12 WIB

Soal Enzo, Stop Rasa Takut dan Ancaman!

Kita jangan mau diadu domba. Dan anak-anak bangsa seperti Enzo Zenz Allie dan Clovis adalah masa depan. Stop jualan rasa takut dan ancaman. Buka hati dan pikiran.…

Net tv

Opini 13 Agustus 2019 - 22:22 WIB

NET TV: ANTARA BISNIS NYATA DAN MIMPI

Kabar ini sedang viral: NET TV dikabarkan bangkrut. Karyawannya di-PHK massal. Manajemen NET TV membantah. Tidak ada PHK massal. Ada apa dengan bisnis media TV?

Prabowo bertemu Megawati (Foto: Dok. PDIP)

Opini 13 Agustus 2019 - 02:09 WIB

Jurus ‘Pendekar Mabuk’ Prabowo dan Isu ‘Penumpang Gelap’

Nampaknya, perilaku elit Partai Gerindra semakin membingungkan kawan dan lawan. Setelah Prabowo ujug-ujug melakukan jurus ‘pendekar mabuk’ dengan “pertemuan…

Kakak beradik pendiri brand Kalibre: Direktur Research & Development Sunflower Lukman, Direktur Production & Marketing Sunflower Sandy Sadeli dan Direktur Finance Sunflower Roby. (dok. pribadi)

Ekbis 05 Agustus 2019 - 16:31 WIB

Kalibre Bintang Baru di Bisnis Tas

Kalibre merupakan salah satu merek tas pendatang baru yang namanya kian populer. Bahkan brand yang didirikan pada tahun 2014 oleh Sandy Sadeli bersama dua kakaknya…

swa.co.id

Presiden Joko Widodo atau Jokowi, mendatangi kantor pusat PT PLN (Persero), Jakarta, Senin 5 Agustus 2019. Kedatangan Jokowi ini untuk meminta penjelasan PLN mengenai padamnya listrik di sebagian besar wilayah Pulau Jawa. TEMPO/Subekti

Nasional 05 Agustus 2019 - 11:23 WIB

Tegur Para Petinggi PLN, Jokowi: Bapak Ibu Kan Pinter-pinter

Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi menegur para pimpinan Perusahaan Listrik Negara (PLN) terkait dengan pemadaman listrik cukup lama pada Ahad, 4 Agustus…

Tempo.co

Mahasiswa UGM Mada Yanditya Affan Almada menunjukkan bahan bakar dari limbah plastik yang diproduksi dari alat furnace atau pemanas ciptaannya di Halaman Gedung Pusat UGM, Rabu, 31 Juli 2019. (ugm.ac.id)

Teknologi 01 Agustus 2019 - 16:37 WIB

Mahasiswa UGM Ini Ubah 380 Gram Sampah Plastik Jadi 400 Cc Minyak

Yogyakarta - Sampah plastik gelas air mineral (plastik PP) di tangan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, bisa disulap jadi bahan dasar bahan bakar minyak…

Tempo.co