Newslink.co.id - Sumber informasi terpercaya

Selasa, 15 Oktober 2019 - 10:45 WIB

NET TV: ANTARA BISNIS NYATA DAN MIMPI

Oleh : Joko Intarto | Selasa, 13 Agustus 2019 - 22:22 WIB

Net tv
Net tv
Oleh: Joko Intarto

Kabar ini sedang viral: NET TV dikabarkan bangkrut. Karyawannya di-PHK massal. Manajemen NET TV membantah. Tidak ada PHK massal. Yang ada menawari karyawan resign dengan kompensasi menarik. Ada apa dengan bisnis media TV?

Saya tidak punya otoritas untuk mengonfirmasi kebenaran berita soal NET TV itu. Lagi pula itu baru isu. Belum tentu benar. Cuma setelah saya menonton tayangan stasiun TV ber-tagline ‘televisi masa kini’ itu isinya konten-konten lawas. Sinetron ‘Suami-Suami Takut Istri’ yang diproduksi entah berapa tahun lalu, sekarang nongol pada slot ‘prime time’.

Pada awal NET TV mengudara (2013), saya masih memimpin perusahaan jaringan TV lokal Jawa Pos: Jawa Pos Multimedia Corporation (JPMC). Sekarang menjadi Jawa Pos Multimedia (JPM). Saat itu saya masih sering bertemu pimpinan Space Toon. Stasiun TV anak satu-satunya. Sebelum berubah menjadi NET TV.

JPMC dan Spacetoon akrab. Karena sama-sama TV lokal. Sama-sama TV berjaringan. Sama-sama berkantor di Jakarta. Dan sama-sama bernasib kurang baik. Karena regulasi tentang TV lokal yang sering berubah-ubah.

JPMC (saat itu) mengelola jaringan dengan anggota 44 stasiun TV lokal. Sedikit kalah jumlah kalau dibandingkan jaringan Sun TV (sekarang Inews). Tapi masih lebih banyak dibanding jaringan Spacetoon.

Mendadak terdengar kabar santer. Spacetoon akan tutup. Berubah nama menjadi NET TV. Berubah pula investornya. Berubah pula pimpinannya.

Rupanya benar. Spacetoon lenyap. NET TV mengudara. Wisnuthama menjadi boss baru di sana.

Munculnya Wisnuthama sungguh membuat saya kagum. Siapa tidak kenal dia? Dalam industri penyiaran TV, Wisnuthama sudah ditahbiskan sebagai ‘dewa’. Walau usianya masih muda. Mungkin ‘dewa muda’.

Program-program baru pun muncul satu per satu. Tokoh-tokoh selebriti yang dulu tampil di TV nasional, mulai bersiaran di NET TV. Sebagai penonton, saya suka. Sisa-sia penderitaan dan kemiskinan Spacetoon sebagai TV lokal sudah tak tampak sama sekali di NET TV.

Glamor. Kinclong.

Tidak kalah dibanding TV nasional. Bahkan lebih unggul. Karena beritanya saja diproduksi dengan kamera-kamera sinematik. Seperti syuting sinetron.

Tapi hidup glamor itu mahal. Selalu tampil kinclong juga mahal. Padahal seglamor-glamornya NET TV, stasiun itu tetaplah stasiun TV lokal. Sekinclong-kinclongnya NET TV, stasiun itu tetaplah stasiun TV lokal.

Sebagai pimpinan stasiun TV lokal berjaringan, terus terang saya keder. Melihat penampilan NET TV. Mana bisa JPMC tampil sehebat itu? Kalau hanya alat produksi, JPMC pasti bisa membeli.

Memproduksi konten sekelas NET TV pun bisa membiayai. Tapi, hanya sekali-sekali. Tidak mungkin sanggup sepanjang hari. Memang duit Jawa Pos tidak berseri?

Pertanyaan saya saat itu: Sampai kapan NET TV kuat?

Saya menduga. Sejak menjadi NET TV, strategi bisnisnya berubah. NET TV mulai membangun strategi bisnis seperti TV nasional. Buat dulu konten yang bagus agar ratingnya tinggi. Kalau ratingnya tinggi pengiklan akan masuk dengan harga mahal.

Teori itu tidak salah. Semua TV nasional melakukannya. Dan sukses. Wisnuthama adalah tokoh industri penyiaran TV yang lahir dari TV nasional. Dan juga membuktikan suksesnya sendiri.

Sayangnya program bagus itu tidak ada yang gratis. Bahkan untuk disebut murah pun sangat sulit. Biaya produksi dan siaran NET TV pasti mahal sekali.

Sebelum itu saya pernah berada pada kondisi yang mirip-mirip. Saat ditugaskan Pak Dahlan Iskan membantu stasiun JAK TV.

JAK TV adalah TV lokal Jakarta. Tapi awaknya semua dari stasiun TV nasional. Cara berpikirnya TV nasional. Model bisnisnya mirip TV nasional: Buat dulu konten yang bagus. Biar ratingnya tinggi. Nanti iklannya akan datang dengan harga mahal.

Saat saya masuk (2007) JAK TV sudah berusia 7 tahun. Belum pernah mencatatkan laba sekali pun. Pendapatannya jauh dibandingkan biayanya. Setiap bulan tekor miliaran rupiah. Berapa kerugiannya selama 7 tahun berturut-turut?
Langkah pertama yang dilakukan untuk menyelamatkan JAK TV adalah menurunkan biaya produksi konten. Presenter dari TV nasional yang sekali tampil bertarif jutaan rupiah distop. Diganti presenter baru hasil audisi mahasiswa yang bersedia dihonor senilai uang taksi.

Film-film drama Korea dan Hollywood yang eksklusif serta mahal dihentikan. Diganti siaran pengobatan alternatif. Sampai akhirnya sempat dijuluki ‘TV dukun’. Saking banyaknya teraphis yang mengisi siaran.

Program-program baru kemudian diproduksi. Yang murah-meriah. Dengan biaya maksimal setengah dari harga blocking time. Kalau blocking time satu jam Rp 5 juta, biaya produksi konten, apa pun genrenya, maksimal Rp 2,5 juta per episode.

Mau undang presenter TV nasional boleh. Undang artis nasional boleh. Asal biayanya Rp 2,5 juta per episode. Produser-produser pusing. Mana bisa uang segitu untuk memproduksi konten berkelas TV nasional?

Tapi akhirnya ketemu jalan. Ada saja temuan program baru. Ada saja partner baru. Yang bisa diajak membiayai program. Salah satunya ‘’Modal Dengkul Dapur Ngebul’’ yang saya ciptakan atas biaya penuh Pak Wahyu Indrasakti Saidi, pemilik kartu nama bertulisan Alumni ITB Tukang Bakmi.

Alhasil, wajah baru JAK TV pun tidak kinclong lagi. Memang ‘nggak kelas’ lagi. Tetapi pada akhir tahun, stasiun TV lokal itu membukukan laba kali pertama. Juga pada tahun-tahun berikutnya.

Apakah NET TV senasib dengan JAK TV? Saya tidak tahu persis. Sudah lima tahun saya meninggalkan industri penyiaran TV. Pindah haluan ke TV online. Kemudian TV interaktif. Yang kini popular dengan sebutan webinar.

Webinar memang tidak seheboh stasiun TV. Tapi webinar bisnis yang nyata. Penonton webinar tidak perlu banyak. Karena setiap peserta harus membayar. Beda dengan stasiun TV. Yang bisnisnya ditentukan mimpi bernama rating tinggi.(jto)

Joko Intarto
Penulis mantan praktisi bisnis media TV

Komentar Berita

Berita Lainnya

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kanan) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto seusai melakukan pertemuan di kediaman Surya Paloh di Kawasan Permata Hijau, Jakarta, Ahad, 13 Oktober 2019

Politik 14 Oktober 2019 - 07:54 WIB

Paloh Bilang Tak Ada Masalah Jika Gerindra ke Koalisi Jokowi

Jakarta - Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengaku tak mempermasalahkan jika Gerindra masuk ke koalisi Jokowi. Hal itu diungkapkannya dalam pertemuannya dengan…

Tempo.co

Suzuki S-Presso tampil menawan dengan pemakaian aksesoris. Sumber: autocarindia.com

Otomotif 14 Oktober 2019 - 07:03 WIB

11 Hari Dipasarkan, Pesanan Suzuki S-Presso Tembus 10 Ribu Unit

Jakarta - Suzuki S-Presso untuk pertama kalinya diluncurkan di India pada 2 Oktober 2019. 11 hari setelah peluncuran, Suzuki India mengklaim pesanan S-Presso tembus…

Tempo.co

Kedai kopi Fa Aman Kuba di Takengon

Ekbis 09 Oktober 2019 - 11:25 WIB

Fa Aman Kuba, Sejarah Kopi Dari Takengon

Aman Kuba sudah eksis sejak tahun 1958. Namun sebelum kemerdekaan, Hasyim sebagai pengusaha kopi sudah mengekspor ke berbagai negara. Sekarang Fa Aman Kuba dijalankan…

Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

Nasional 01 Oktober 2019 - 10:34 WIB

Dampak Negatif Demo Mahasiswa ke Ekonomi, Faisal Basri: Gak Ada

Jakarta - Ekonom Faisal Basri mengatakan demo mahasiswa maupun pelajar yang belakangan ini terjadi tidak bakal berdampak negatif kepada perekonomian Indonesia.…

Tempo.co

Aristides Katopo

Artikel 01 Oktober 2019 - 09:37 WIB

Tides: Masak You Gak Bisa Dapat, Sih?

+ Masak you gak bisa dapat sih? - Nanti dicarikan + Kan sudah 25 tahun. Pasti sudah di-declassified. Coba you cari Marshal Green, bekas Dubes Amerika yang pernah…

Ibu ibu di Banjarnegara memamerkan hasil karya kain ecoprint

Ekbis 30 September 2019 - 02:04 WIB

Peluang Bisnis Kain Ecoprint

Suksesnya bisnis kain ecoprint adalah suksesnya kaum perempuan. Seluruh usaha dari produksi hingga pemasaran akan ditangani 100 persen perempuan.

Penjual buah Zuriat di Kota Palu, Sulawesi Tengah

Artikel 28 September 2019 - 10:01 WIB

Zuriat, Legenda Buah Penyubur Keturunan

Buah zuriat terkenal sebagai buah obat untuk pasangan suami-istri yang susah memperoleh keturunan. “Di Negara asalnya buah zuriat digunakan sebagai obat untuk…