Newslink.co.id - Sumber informasi terpercaya

Jumat, 18 Oktober 2019 - 18:26 WIB

Tides: Masak You Gak Bisa Dapat, Sih?

Oleh : Albert Kuhon | Selasa, 01 Oktober 2019 - 09:37 WIB

Aristides Katopo
Aristides Katopo
+ Masak you gak bisa dapat sih?
- Nanti dicarikan
+ Kan sudah 25 tahun. Pasti sudah di-declassified. Coba you cari Marshal Green, bekas Dubes Amerika yang pernah tugas di Jakarta tahun 1965an.
- Oke

Begitu kira-kira percakapan singkat saya dengan Aristides Katoppo, yang akrab disapa Tides di akhir tahun 1990. Waktu itu saya Kepala Biro Harian Suara Pembaruan di Washington DC. Wartawan senior Aristides Katoppo, bukan petinggi di redaksi. Tapi suaranya tetap berpengaruh. Percakapan itu diakhiri dengan komentar agak sinis: “Masak Albert Kuhon gak bisa dapat sih?”

Kami berbincang singkat tentang dokumen rahasia yang dibuat oleh pihak Kedubes Amerika Serikat di Indonesia menghenai Peristiwa G30S. Sampai dengan tahun 1990 tersebut, sudah banyak informasi berkembang yang menyatakan pihak CIA (Central Intelligence of America) terlibat dalam tragedi 30 September 1965 dan penggulingan Presiden Sukarno.

Tides
Tides mengawali karir jurnalistik sejak tahun 1957, sewaktu ia bergabung dengan Pers Biro Indonesia. Tahun 1961, Tides bergabung dengan HG Rorimpandey dkk memperkuat redaksi koran sore Sinar Harapan. Tahun 1968, Tides menjabat Redaktur Pelaksana Sinar Harapan. Ia menjadi pemimpin redaksi setelah Sinar Harapan terbit kembali tahun 2001, sekitar 15 tahun sehabis ditutup pemerintah Orba pada bulan Oktober tahun 1986.

Ia sempat belajar di Stanford University di Amerika Serikat selama lima tahun. Tides juga pernah belajar di Center for International Affairs, Harvard University di Boston. Ketika kembali ke Indonesia, Tides mengajar jurnalistik di Jurusan Komunikasi FISIP Universitas Indonesia.

Dalam penugasan kewartawanan, Tides memang selalu ‘menuntut’. Tides bersama Sabam Siagian menjadi tulang punggung koran sore Sinar Harapan yang diterbitkan tahun 1961oleh Hendrikus Gerardus Rorimpandey bersama JCT Simorangkir, Subagyo PR dan kawan-kawan. Produk-produk jurnalistik Tides sangat mewarnai koran sore tersebut. Banyak wartawan (yang sekarang sudah senior) hasil didikan Tides. Di antaranya, Atmadji Sumarkidjo, Upa Labuhari, Bernadus Sendouw, Yuyu AN Mandagie, dan lain-lain.

Penghargaan prestasi jurnalistik berupa Trofi Adinegoro (dari Persatuan Wartawan Indonesia) maupun Kalam Kencana (dari Departemen Penerangan) banyak diterima oleh para wartawan Sinar Harapan. Para wartawan Sinar Harapan penerima penghargaan tersebut antara lain Subekti, Panda Nababan, Yuyu A.N Mandagie, Tinnes Sanger dan Bernadus Sendouw, Indra Rondonuwu, Suryanto Kodrat, Samuel Pardede, Pramono R Pramoedjo dan Thomas Lionar.

Piawai
Di lingkungan Redaksi Kompas, almarhum Polycarpus Swantoro adalah orang yang meletakkan dasar-dasar penulisan laporan jurnalistik sejak terbitnya harian tersebut Juni 1965. Swantoro adalah orang yang melatih para wartawan senior seperti J. Widodo, Raymond Toruan, R. Sugiantoro, Indrawan dll. Di lingkungan Sinar Harapan, Aristides Katoppo adalah salah seorang arsitek peliputan yang sangat handal.

Kepiawaian Tides dalam menakhodai Sinar Harapan patut diacungi jempol. Pada era kepemimpinannya, koran sore Sinar Harapan digemari pembacanya karena keunggulan dalam news getting atau peliputan. Sikap Tides yang sangat menuntut (demanding) merupakan salah satu faktor penyebab keunggulan tersebut. Koran sore itu menjadi sangat kritis dalam menerapkan motto “Memperjuangkan Kemerdekaan dan Keadilan, Kebenaran dan Perdamaian berdasarkan Kasih”.

Sinar Harapan harus mengalami beberapa kali pembredelan oleh pemerintah sebagai konsekuensi dari konsistensi dalam pemberitaannya. Tides nyaris tidak peduli dan berkali-kali harus berbeda pendapat dengan para pemilik modal. Bagi Tides, fakta merupakan sesuatu yang suci dan tidak perlu ditutup-tutupi.

Larangan terbit yang pertama dialami Sinar Harapan (dan sejumlah media lain) tanggal 2-8 Oktober 1965, karena penguasa tidak menghendaki peristiwa G 30 S-PKI diekspos secara bebas oleh media. Hanya media-media tertentu saja yang boleh terbit. Pada tanggal 8 Oktober 1965 Sinar Harapan diperbolehkan kembali terbit. Bulan Juli 1970, Sinar Harapan mendapat ‘teguran’ memberitakan temuan Komisi IV DPR RI mengenai adanya korupsi di kalangan pemerintah Orde Baru.

Jurnalistik
Tides nyaris tidak terlalu memikirkan urusan bisnis. Baginya, jurnalistik harus menggambarkan fakta dan diwarnai kekritisan berpikir. Penggalian data dan informasi harus dilakukan secara teliti dan laporannya kudu analitis.

Keterbatasan waktu karena Sinar Harapan adalah koran sore, tidak boleh mengurani nilai-nilai dasar jurnalistik tersebut. Karenanya, tidak jarang Tides berbeda pendapat dengan para pemilik modal korannya.

Pemberitaan Sinar Harapan tanggal 31 Desember 1971 yang berjudul “Presiden Larang Menteri-menteri Beri Fasilitas pada Proyek Mini” mengakibatkan pihak Redaksi Sinar Harapan beroleh teguran. Tanggal 2-12 Januari 1973 Pangkopkamtib (Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) mencabut sementara Surat Izin Cetak Sinar Harapan akibat pemberitaan yang ‘membocorkan’ RAPBN (Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara). Sejumlah wartawan Sinar Harapan sempat diperiksa pihak Kejaksaan Agung akibat pemberitaan tersebut.

Sinar Harapan dan sejumlah media dibreidel lagi tahun 1974, sehubungan pemberitaan tentang kegiatan demonstrasi mahasiswa yang disebut Malari (lima belas Januari). Koran itu dibolehkan terbit kembali 4 Februari 1978 Sinar Harapan diperbolehkan. Breidel terakhir terjadi Oktober 1986, ketika Sinar Harapan ‘membocorkan’ rancangan undang-undang antimonopoli yang sedang digodok di DPR.

Tangan Tides menyentuh hampir semua pemberitaan ‘panas’ Sinar Harapan. Tides memang tidak pernah kompromi dalam soal kekritisan. Pada tahun-tahun itu, penerbitan media massa telah beralih dari yayasan ke PT (perseroan terbatas) dan Surat Izin Cetak telah berganti menjadi SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers). Akibat pemberitaan tentang rancangan undang-undang antimonopoli yang ‘menyerang’ sejumlah kepentingan bisnis keluarga pejabat tinggi, pemerintah yang dipimpin Presiden Soeharto membatalkan SIUPP koran Sinar Harapan.

Para wartawan dan karyawan yang mengerjakan koran Sinar Harapan, dialihkan dari PT Sinar Kasih (penerbit Sinar Harapan) ke PT Media Interaksi Utama (MIU) di alamat yang sama. PT MIU kemudian sejak tahun 1987 menerbitkan koran sore Suara Pembaruan. Namun Tides, Rorimpandey dan Subagio PR tidak dibolehkan duduk di lingkungan redaksi.

Saya dan Tides
Saya kenal Tides secara pribadi pada awal dekade 1980an. Akhir dekade 1980an, saja diajak bergabung ke harian Suara Pembaruan, penjelmaan dari Sinar Harapan yang dibreidel tahun 1986. Sejak itu saya sering bertemu dengan Tides.

Sebagian lingkaran pertemanan Tides, ternyata teman-teman saya juga. Teman-teman Tides ada di mana-mana dan dari berbagai kalangan. Tides juga berteman dengan para mahasiswa, mulai dari Angkatan 66 sampai para aktifis tahun 1998.

Bayangkan, Tides bersahabat dengan Soe Hok Gie (aktifis Angkatan 1966 yang wafat di Gunung Semeru) dan akrab juga dengan wartawan muda para aktifis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang didirikan pertengahan dekade 1990an. Bahkan Tides adalah salah seorang pendiri AJI!

Tides akrab dengan alam. Ia seorang pendaki gunung, yang me njadi bagian tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan Wanadri maupun Mapala UI. Teman-teman lamanya di lingkungan pecinta alam antara lain Herman Lantang, almarhum Rudy Badil, almarhum Norman Edwin, dan Don Hasman.
Tides sangat pandai menjaga persahabatannya. Ia masih aktif hadir dalam berbagai acara. Saya bertemu terakhir dengannya ddalam peringatan 40 hari wafatnya Badil yang diselenggarakan Yosephine Komara (Obin) dan teman-teman Badil lainnya September lalu. Sebelum Tides pergi ke Semeru.

Berkali-kali Tides mengundang saya buat ngopi, tapi belum sempat terlaksana. Undangannya disampaikan lewat Jossi Katoppo, adiknya yang juga sobat lama saya. Seorang mantan reporter SCTV (Surya Citra Televisi), Iwan Setiawan, juga beberapa kali menyampaikan pesan tentang ajakan Tides. Bahkan dalam acara pemakaman Rudy Badil di Tanahkusir Agustus lalu, Mimis (istri Tides) yang mendampingi Tides dan Herman Lantang, masih mengingatkan tentang undangan tersebut.

Tides meninggal dunia dalam usia 81 tahun di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta Pusat, Minggu (29/9/2019) siang. Beberapa hari sebelumnya, ia bersama sobat-sobatnya Herman Lantang dan Don Hasman bernostalgia di Gunung Semeru, napak tilas pendakian terakhir Soe Hok Gie.
Di Rumah Duka RSPAD Gatot Subroto, Herman Lantang sempat menangis tersedu-sedu di pinggir peti jenazah, Senin 30 September siang. Herman berjalan tertatih-tatih dengan tongkatnya, mengenakan pakaian warna khaki, kacamata gelap, dan topi lebar yang biasa dipakai para pendaki. Beberapa menit Herman ‘berbincang’ dengan sobatnya yang terbaring dalam peti jenazah itu.

Tides yang perkasa, Tides yang kritis, Tides yang punya banyak sahabat, Tides yang jurnalis, Tides yang pecinta alam, kini telah berpulang. Teman-temannya seperti Soe Hok Gie, Norman Edwin dan Rudy Badil mungkin sudah menunggu Tides di alam sana buat bercengkerama.
Masak you gak bisa dapat sih? Selamat jalan, Senior!

Bintaro, 1 Oktober 2019
AK

Komentar Berita

Berita Lainnya

Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kanan) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto seusai melakukan pertemuan di kediaman Surya Paloh di Kawasan Permata Hijau, Jakarta, Ahad, 13 Oktober 2019

Politik 14 Oktober 2019 - 07:54 WIB

Paloh Bilang Tak Ada Masalah Jika Gerindra ke Koalisi Jokowi

Jakarta - Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh mengaku tak mempermasalahkan jika Gerindra masuk ke koalisi Jokowi. Hal itu diungkapkannya dalam pertemuannya dengan…

Tempo.co

Suzuki S-Presso tampil menawan dengan pemakaian aksesoris. Sumber: autocarindia.com

Otomotif 14 Oktober 2019 - 07:03 WIB

11 Hari Dipasarkan, Pesanan Suzuki S-Presso Tembus 10 Ribu Unit

Jakarta - Suzuki S-Presso untuk pertama kalinya diluncurkan di India pada 2 Oktober 2019. 11 hari setelah peluncuran, Suzuki India mengklaim pesanan S-Presso tembus…

Tempo.co

Kedai kopi Fa Aman Kuba di Takengon

Ekbis 09 Oktober 2019 - 11:25 WIB

Fa Aman Kuba, Sejarah Kopi Dari Takengon

Aman Kuba sudah eksis sejak tahun 1958. Namun sebelum kemerdekaan, Hasyim sebagai pengusaha kopi sudah mengekspor ke berbagai negara. Sekarang Fa Aman Kuba dijalankan…

Faisal Basri. TEMPO/Jati Mahatmaji

Nasional 01 Oktober 2019 - 10:34 WIB

Dampak Negatif Demo Mahasiswa ke Ekonomi, Faisal Basri: Gak Ada

Jakarta - Ekonom Faisal Basri mengatakan demo mahasiswa maupun pelajar yang belakangan ini terjadi tidak bakal berdampak negatif kepada perekonomian Indonesia.…

Tempo.co

Ibu ibu di Banjarnegara memamerkan hasil karya kain ecoprint

Ekbis 30 September 2019 - 02:04 WIB

Peluang Bisnis Kain Ecoprint

Suksesnya bisnis kain ecoprint adalah suksesnya kaum perempuan. Seluruh usaha dari produksi hingga pemasaran akan ditangani 100 persen perempuan.

Penjual buah Zuriat di Kota Palu, Sulawesi Tengah

Artikel 28 September 2019 - 10:01 WIB

Zuriat, Legenda Buah Penyubur Keturunan

Buah zuriat terkenal sebagai buah obat untuk pasangan suami-istri yang susah memperoleh keturunan. “Di Negara asalnya buah zuriat digunakan sebagai obat untuk…

Rasulullah

Religi 26 September 2019 - 04:21 WIB

Menghadapi Pengemis

Abu Dawud menarasikan sebuah hadis dari Anas bin Malik yang mengisahkan: Seorang laki-laki Anshar datang mengemis kepada Rasulullah SAW. Lalu, Rasulullah bertanya,…

republika.co.id