Newslink.co.id - Sumber informasi terpercaya

Kamis, 12 Desember 2019 - 16:05 WIB

Nasib UMKM, Bagai Semut Melawan Gajah

Oleh : Joko Intarto | Senin, 11 November 2019 - 16:09 WIB

Pameran produk UMKM di Jakarta
Pameran produk UMKM di Jakarta
Oleh: Joko Intarto

Banyak kisah klasik yang bisa menjadi inspirasi bisnis. Masih ingat dengan fabel ‘’Semut Melawan Gajah?’’ Atau kisah ‘’David Melawan Goliath’’ dalam kitab Injil?
------

Ini pertanyaan yang sering muncul dalam pelatihan pemberdayaan ekonomi. Umumnya mereka menanyakan, bagaimana caranya agar produk UMKM bisa bersaing di pasar melawan produk perusahaan raksasa.

Saya bukan ahli marketing. Saya sama seperti kebanyakan kawan saya, pelaku bisnis UMKM: Usaha mikro kepepet modal. Sudah kecil skalanya, terbatas pula kapitalnya.

Dari bertanya ke sana-sini, saya punya kesimpulan: produk UMKM tidak harus bersaing dengan produk perusahaan konglomerat.

Berat. Terlalu berat.

Produk UMKM tidak mungkin kuat melawan produk perusahaan raksasa itu. Tapi produk UMKM pasti bisa hidup dan berkembang kalau masuk di pasar spesifik. Yaitu pasar komunitas.

Saya ingat dengan teman saya. Ia menjadi anggota sebuah komunitas yang sangat tertutup. Kalau pun saya bisa mengakses informasi, lebih karena saya berkawan dengan dia jauh sebelum masuk komunitas tersebut.

Saya awalnya heran. Kawan saya mengonsumsi produk-produk yang mereknya tidak saya kenal. Dari kecap sampai minuman suplemen dan parfum. Belum pernah saya temukan merk itu di lemari display di warung maupun minimarket.

Rupanya produk-produk itu produksi anggota komunitasnya sendiri. Dipasarkan dengan metode direct selling. Antarmember. Ruang pamernya hanya di kamar tamu.

Saya tahu komunitas itu tidak banyak. Tapi mereka solid. Punya kesadaran yang sama: Menyediakan dan mengonsumsi produk sendiri. Walau prosesnya mungkin dengan mesin-mesin yang sederhana. Walau harganya lebih mahal. Walau waktu kirimnya lebih lama karena dikirim dari luar pulau.

Pasar komunitas. Pasar emosional. Inilah yang mungkin bisa menjadi jalan bagi produk-produk UMKM.

Produk UMKM tidak perlu bersaing di toko umum. Tidak perlu bersanding dengan produk sejenis dari perusahaan besar. Produk UMKM itu hanya perlu dipasarkan melalui gerai yang ada di lingkungan komunitas. Toh volume produksinya belum besar. Distribusinya terbatas. Promosinya apa lagi: Nyaris tak terdengar.

Kalau di komunitas kawan saya yang kecil saja hidup, di komunitas Muhammadiyah produk UMKM pasti bisa lebih hidup. Bisa lebih besar. Bisa lebih berkembang.

Muhammadiyah memiliki anggota puluhan juta orang. Menjadi ormas Islam terbesar kedua di Indonesia. Berarti juga terbesar kedua di dunia. Itulah potensi pasarnya.

Muhammadiyah juga memiliki ribuan spot yang bisa menjadi titik distribusi. Sebut saja: masjid, mushola, klinik, rumah sakit, sekolah, pesantren dan kampus. Belum lagi kantor-kantor majelis, lembaga dan organisasi otonom di seluruh Indonesia. Dari kantor pusat hingga wilayah, cabang dan ranting.

Prinsipnya: Bisnis tidak boleh hanya menjadikan anggota Muhammadiyah sebagai pasar. Bisnis harus juga menempatkan warga Muhammadiyah sebagai pelaku usaha yang mencukupi kebutuhan pasar tersebut.

Beberapa hari ini saya keliling di berbagai kota. Saya menemukan beberapa usaha UMKM yang dikelola warga Muhammadiyah.

Pikiran saya mulai terganggu dengan gagasan baru: Bisakah menemukan bisnis yang mempertemukan aneka produk warga Muhammadiyah untuk mengisi kebutuhan di pasar komunitas Muhammadiyah sendiri?

Komunitas Muhammadiyah begitu besar. Tidak mungkin kebutuhan mereka bisa dipenuhi dengan usaha kelas teri. Kecuali: memetakan komunitas besar itu menjadi komunitas kecil.

Misalnya gagasan drh H Zainul Muslimin, Ketua Lazismu Jawa Timur tentang pentingnya kantin sehat di sekolah Muhammadiyah. Maka Lazismu Jawa Timur menyusun program untuk membersihkan produk-produk makanan dan minuman yang tidak sehat dari kantin-kantin di sekolah Muhammadiyah.

Targetnya: semua kantin di sekolah Muhammadiyah hanya boleh menyajikan makanan yang halal dan tayib. Halal saja tidak cukup. Harus tayib. Agar semua siswa di sekolah Muhammadiyah tumbuh menjadi generasi muda yang sehat jasmani dan rohani. Tidak generasi sakit-sakitan akibat kebanyakan micin.

Begitu banyak produk makanan dan minuman yang dijual di kantin-kantin sekolah Muhammadiyah. Saya coba ambil salah satunya saja: Mi instan. Pertanyaannya, mungkinkah menghadirkan mi instan yang sehat dan memberdayakan warga Muhammadiyah sendiri?

Mi instan dibuat dari bahan baku terigu. Bahan pangan yang harus diimpor. Semakin besar konsumsi mi instan itu, semakin besar pula impor terigunya.

Mungkinkah membuat mi instan dengan bahan baku lokal? Ternyata bisa. Tepung terigu bisa diganti mocaf. Tepung hasil olahan sari pati singkong. Sudah banyak warga Muhammadiyah yang bisa mengolah singkong menjadi mocaf. Antara lain di Banjar Negara, Jawa Tengah.

Telur dan daging ayamnya pun jenis organik yang dari peternak di Klaten, Jawa Tengah. Sausnya dari tomat dan cabai organik dari Kabupaten Bandung Barat. Bawang gorengnya juga organik yang ditanam petani di Biromaru, Sulawesi Tengah.

Distribusinya tidak perlu jauh-jauh. Di kantin sekolah Muhammadiyah saja. Mulai dari beberapa sekolah di satu kota. Nanti berkembang secara alamiah ke sekolah di kota lainnya.

Produk-produk itu juga bisa dibeli oleh Lazismu. Bisa disalurkan sebagai bantuan pangan bila terjadi bencana alam sewaktu-waktu. Melalui Muhammadiyah Disaster Managemen Center (MDMC) dan mitra-mitra teknis lainnya.

Tanpa sadar, hanya dari satu produk bernama mi instan saja, begitu banyak yang bisa terlibat. Begitu banyak yang bisa ikut menikmati. Kalau bahan-bahannya lokal. Kalau pengusahanya lokal. Kalau pekerjanya lokal. Yang hobinya impor pasti tidak setuju.(jto)

Komentar Berita

Berita Lainnya

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut B Pandjaitan mantan Menkominfo Rudiantara jadi Dirut PLN

Ekbis 10 Desember 2019 - 16:02 WIB

Pastikan Rudiantara Jadi Bos PLN, Luhut: Di Kabinet Kerjanya Bagus

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memastikan Presiden Joko Widodo alias Jokowi menunjuk Rudiantara menjadi Direktur Utama…

katadata.co.id

Bank Mandiri

Ekbis 08 Desember 2019 - 05:46 WIB

Chatib Basri Mau Turun Gunung, Erick Thohir: karena Percaya Saya

Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir mengungkapkan alasan mantan Menteri Keuangan Chatib Basri bersedia menjadi Wakil Komisaris Utama PT Bank…

Tempo.co

Sinar Mas Land bersama The Jakarta Post dan PricewaterhouseCoopers selenggarakan sebuah diskusi bertajuk ‘’Outlook Kawasan Digital Hub Pada 2020’’ di BSD City.

Ekbis 07 Desember 2019 - 16:09 WIB

Digital Hub akan Berkontribusi Positif dalam Pengembangan Ekonomi Digital di BSD City

Sinar Mas Land menggandeng The Jakarta Post, dan Pricewaterhouse Coopers, firma audit terbesar di dunia untuk menelaah pengembangan Kawasan Digital Hub di BSD City.…

Menteri BUMN Erick Thohir/Foto: Agung Pambudhy

Ekbis 07 Desember 2019 - 13:58 WIB

Erick Thohir Pecat Semua Direktur Garuda yang Selundupkan Harley

Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pagi tadi menggelar pertemuan dengan Dewan Komisaris PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. Usai pertemuan…

detik.com

Juru bicara KPK Febri Diansyah memberikan keterangan pers di gedung KPK, Jakarta, Senin, 14 Oktober 2019.

Hukum 07 Desember 2019 - 07:52 WIB

KPK Temukan Aliran Duit Rp 100 Miliar ke Mantan Petinggi Garuda

Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menengarai ada aliran duit sejumlah Rp 100 miliar dalam kasus suap pembelian mesin pesawat oleh PT Garuda Indonesia.…

Tempo.co

Kementerian BUMN Minta Bea Cukai Usut Video Ferrari di Pesawat Garuda. Foto: dok. Istimewa

Ekbis 06 Desember 2019 - 21:10 WIB

Kementerian BUMN Minta Bea Cukai Usut Video Ferrari di Pesawat Garuda

Jakarta - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) meminta komisaris untuk melakukan pemeriksaan atas viralnya video Ferrari di lambung pesawat Garuda Indonesia.…

detik.com

Foto: Ari Saputra

Ekbis 06 Desember 2019 - 18:03 WIB

Besok, Erick Thohir Telusuri Oknum Lain yang Terlibat Kasus Harley

Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir memecat Dirut Garuda Indonesia Ari Askhara terkait kasus penyelundupan komponen Harley Davidson dan…

detik.com